belum ada judul

aku selalu khawatir bahwa sebenarnya aku ini tidak layak disebut sebagai penulis. bahwa dengan aku sering berteriak mediocre mungkin justru aku yang seperti itu.

menulis puisi dengan perbendaharaan kata seadanya, tema yang itu lagi itu lagi, bahkan kadang mungkin terdengar seperti ratapan yang tak habis-habis.

aku juga pernah curhat pada ninin. aku ini kok gak pernah bisa ya bikin judul tulisan yang mengena. itu justru jadi tahap paling sulit dari keseluruhan proses menulisku. akhirnya ya paling aku comot kalimat awal puisiku atau kata/kalimat yang paling sering aku ulang-ulang.

tapi hari ini aku berkenalan dengan puisi-puisi Wiji Thukul. iya, memang isi puisinya tentu saja jauh berbeda. yang satu bicara penderitaan garis keras, yang satu lagi bicara penderitaan anak jakarta yang pengen jadi manusia sosialis tapi terjebak dalam tubuh anak (yang katanya) gaul. atau kalau tidak bicara tentang penderitaan patah hatinya yang cupu dan mendayu-dayu.

mungkin karena perlawanannya yang bikin hati dan mataku mewek atau mungkin karena Thukul sangat telanjang bercerita dalam puisi-puisinya atau karena Thukul mungkin tidak menggunakan kata-kata mutakhir dalam puisinya atau karena keadaan yang menyebabkan beberapa puisinya tak berjudul atau karena memang sudah begitu saja, maka aku bisa merasakan kesamaannya (kalau dia masih hidup, semoga dia tidak merasa terhina dengan ucapanku ini).

hari ini sedikit berkurang kekhawatiranku. rasanya pantas jika aku ucapkan: terima kasih Wiji Thukul

Advertisements

One thought on “belum ada judul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s